BELAJAR DISIPLIN DIRI

Mendisiplinkan diri itu memang susah

AYO BELAJAR DISIPLIN !

Pernah sekali saya melihat sebuah slogan terpatri gagah, disebuah GYM tempat berlatih para pesenam, dan bunyinya :”Maju sehat bersama”
Tetapi hanya disiplin yang membuat kita bertahan”. Kata ini melekat berbulan-bulan dikepala saya. Nempel terus.
Seorang direktur sebuah Bank Nasional, pernah berdiskusi santai dengan saya soal topik yang satu ini. Pertanyaan beliau rada nyeleneh juga. Kata beliau, banyak training mengambil topik soal motivasi, leadership, entrepreneur, dsbnya.
Tetapi mengapa ia tidak pernah melihat ada satu training manajemen yang mengupas dan membahas masalah disiplin ? Padahal disiplin adalah kunci dari banyak hal. Para atlet dan juara misalnya, semua mengandalkan disiplin berlatih sebagai kunci kemenangan.
Menurut Mpu Peniti, disiplin ngak pernah di-diskusikan atau dibahas, semata-mata karena disiplin tidak glamour. Disiplin adalah soal bekeringat. Jadi siapa yang mau bicara sesuatu yang asin dan bau. Dan memang disiplin bukan soal gampang atau mudah. Mpu Peniti bertutur bahwa disiplin itu butuh contoh, dan leadership.
Menurut beliau, sudah bertahun-tahun kita mengkampanyekan budaya antri misalnya. Dan tidak juga berhasil. Kemanapun anda pergi, disiplin antri jarang terlihat. Semua orang maunya langsung kedepan tanpa antri. Sambil geleng-geleng kepala, Mpu Peniti bercerita soal pejabat yang dikawal berbagai motor dan mobil polisi dengan sirene meraung-raung mencoba menerobos kemacetan lalu-lintas setiap hari, yang jelas-jelas memberikan contoh tidak mau antri. Bagaimana mungkin rakyat kecil bisa antri dengan disiplin tinggi ? Kalau pemimpin-nya saja tidak mau disiplin antri ?
Cerita Mpu Peniti membuat saya malu hati juga. Karena saya sering minta sopir saya ikut dibelakang mobil atau motor bersirene, agar bisa ikut kedepan tanpa harus antri di kemacetan lalu lintas. Memang disiplin itu bukanlah sesuatu yang nyaman dan nikmat. Saya ingat ketika mulai belajar menulis jaman SD dulu. Awalnya selalu dari pensil. Dan secara disiplin kita diajar menulis bagus dan halus. Melelahkan. Habis itu kita disuruh menulis dengan mata pena yang dicocol kedalam tinta. Duh, menderita bukan main. Karena sangat sulit. Terlalu keras, kertas akan robek. Terlalu ringan, tinta tidak akan keluar.
Tetapi hasilnya memang membanggakan.
Tulisan tangan saya hingga hari ini, tidak jelek-jelek banget.
Cukup artistiklah !Mpu Peniti menyambung dengan satu pesan, bahwa semuanya yang baik dalam kehidupan ini selalu dimulai dengan disiplin. Misalnya disiplin menabung akan menjadikan kita terbiasa dengan hidup hemat. Disiplin membaca akan membuat kita terbiasa belajar dan berpengetahuan luas. Disiplin bangun bagi akan membiasakan kita hidup rajin. Begitu dan seterusnya.Juara-juara bisnis juga punya pola disiplin yang mirip.
Misalnya mereka sangat berdisiplin untuk melakukan inovasi. Sehingga inovasi memiliki pola yang teratur dan tidak muncul sesekali, setiap kali perusahaan macet atau mengalami kemunduran. Istilahnya sebuah perusahaan disebut inovatif, kalau inovasinya muncul teratur dan berurutan. Lalu bagaimana kita bisa belajar disiplin ? Pertama-tama karena disiplin menunjukan pola keteraturan, maka satu hal terpenting adalah “time-management”. Artinya anda harus menghormati waktu, belajar tepat waktu dan tidak pernah terlambat. Belajar membuat rencana yang terjadwal.

Dengan cara ini, lama-lama tidak akan ada waktu anda yang terbuang percuma. Anda otomatis akan hemat waktu.Belajar menyusun prioritas. Karena disamping akan menghemat waktu anda, juga akan membuat pekerjaaan anda bersinerji satu dengan yang lain-nya. Artinya pekerjaan anda akan disusun berdasarkan sebuah kesinambungan, sehingga hasil atau output akan lebih efektif, dan produktif.
Dan yang terakhir, disiplin mirip latihan olah raga. Tujuannya membuat prestasi anda lebih baik. Misalnya lari lebih cepat, melempar bola lebih akurat, dan lebih responsif melawan musuh. Untuk itu hal yang perlu anda manfaatkan sebanyak-banyaknya adalah siklus belajarnya.
Hanya dengan belajar maka anda akan lebih baik.
Karena anda mampu mengoreksi hal-hal yang salah dan tidak benar.Ketika saya masih kecil, setiap kakek saya makan, entah itu siang atau malam, saya dipanggil untuk menemani beliau makan.
Celakanya makan dengan beliau, harus ikut beliau pula, yaitu makan dengan menggunakan sumpit.
Tidak boleh pakai sendok dan garpu. Kalau salah, saya dikoreksi dan kadang dimarahi, dan juga dikuliahi soal estetika makan. Pendek kata saya didisiplinkan untuk memakai sumpit.

Susahnya bukan main. Apalagi ketika harus mengambil sesuatu yang bundar seperti telur, atau sesuatu yang mudah hancur seperti tahu. Kata kakek saya, sekedar bisa memakai sumpit, dan bisa beneran beda. Untuk itu saya selalu bersyukur. Karena berkat pelajaran disiplin yang sederhana ini saya banyak belajar dari filosofi sumpit. Salah satunya, kakek saya bertutur makan dengan sumpit tidak berisik.
Karena sepasang bambu bila berbenturan akan jauh lebih sunyi dibanding sepasang sendok dan garpu berbenturan di piring.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s